Di Rumah
Hari itu, hujan turun sejak pagi. Langit kelabu dan suara gemericik air di atap rumah membuat suasana menjadi tenang. Aku duduk di ruang tamu, memandangi halaman yang basah lewat jendela besar. Di rumah ini, setiap sudut menyimpan kenangan—dari aroma kayu di ruang makan sampai suara lantai berderit di lorong panjang.
Ibu sedang memasak di dapur. Aroma makanan menyebar ke seluruh ruangan, membuat perutku lapar. Bapak ku sedang membuat kopi panas. Adikku, sibuk dengan mainannya di ruang tamu. Suasana sederhana itu membuatku sadar, betapa hangatnya rumah bukan karena tembok dan atapnya, melainkan karena orang-orang di dalamnya.
Ketika listrik tiba-tiba padam, kami semua berkumpul di ruang tengah. Ibu menyalakan lilin, cahayanya berkelip lembut. Kami bercerita sambil tertawa, mengenang masa kecil yang lucu. Adik ku memeluk bonekanya, sementara bapakku menceritakan kisah masa mudanya yang penuh kejutan. Dalam kegelapan itu, aku merasakan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang—kebersamaan.
Tak lama, hujan mulai reda. Bau tanah basah menyeruak lewat jendela yang terbuka sedikit. Lilin hampir habis, tapi tak ada seorang pun yang ingin beranjak. Aku menatap wajah mereka satu per satu dan berpikir: rumah bukan sekadar tempat pulang, melainkan tempat hati berlabuh.
Malam itu, aku tidur lebih cepat. Suara hujan yang tersisa menjadi lagu pengantar tidur. Di rumah yang sederhana ini, aku merasa paling kaya karena aku memiliki keluarga, dan ketenangan yang sejati.
g ada horornya kah?
BalasHapus